Kiai Anwar: Pesantren Tak Pernah Ketinggalan Memperjuangkan Kemerdekaan
![]() |
| sumber : www.lirboyo.net |
“(Lirboyo)
ini adalah pusat kegiatan gerilya di Jawa Timur. Jadi, santri-santri Lirboyo
tidak lepas, artinya tetap ikut berjuang mempertahankan negara kita Republik
Indonesia. Banyak santri-santri yang diberangkatkan ke Surabaya. Malah Mbah
Kyai Mahrus (KH. Mahrus ‘Ali) sebagai pimpinan Hizbullah Jawa Timur.
Sering beliau berangkat ke Surabaya untuk mengantarkan santri-santri yang
berangkat ke sana. Dan seluruh pondok pesantren, kyai-kyai yang ada di Jawa
Timur, itu berangkat ke Surabaya untuk memutlakkan (kedaulatan) NKRI, negara
Republik Indonesia. Jadi, perjuangan pondok pesantren tidak kecil. Semua kyai,
santri pondok pesantren berangkat. Dari pondok-pondok yang kecil, kyainya
berangkat semua. Jangan dianggap kita diam saja. Tapi sesudah berjuang
(selesai) ya sudah, kyainya kembali ke pondok pesantren, santrinya kembali ke
pondok pesantren. Yang meneruskan (perjuangan) banyak, tapi yang kembali
ke pondok pesantren lebih banyak, sebab memiliki tanggung jawab untuk membina
masyarakat Indonesia untuk betul-betul menjadi masyarakat yang sempurna
hidupnya. Utamanya dalam masalah agama. Ini, jadi perjuangannya, pada waktu
berjuang prei (libur) semua.
Malah
pernah dulu Mbah Kyai Abdul Karim wiridan di dalam, Belanda di sini (sekitar
area masjid) mencari Mbah Kyai Mahrus. Ketemu sebenarnya, tapi tidak tahu.
Belanda tidak tahu, sebab Kyai Mahrus di lih (ganti) namanya, Rusydi
(nama kecil beliau). Jadi ,tidak tahu, (malah) yang dicari Kyai Mahrus. Tapi
sebetulnya, Mbah Kyai Mahrus itu sudah ketemu sendiri dengan Belanda. Ketemu,
betul itu. Tapi ditanya, namanya Rusydi, bukan Mahrus.
Lha,
Mbah Kyai (Abdul Karim) itu tidak pernah pulang dari masjid. Terus wiridan sama
santri. Sebanyak empat puluh santri, itu yang mengikuti wiridan Mbah Kyai
(Abdul Karim). Kalau waktu serangan ke Surabaya itu, menghadapnya ke sana, ke
Surabaya. Santri-santri diajak wiridan menghadap ke sana (Surabaya) untuk
menghancurkan Belanda.
Alhamdulillah,
dengan perjuangannya para kyai, Allah memberikan pertolongan, kita diberikan
aman sampai sekarang. Jadi ini sejarah Lirboyo, tidak ketinggalan
memperjuangkan Republik Indonesia. Termasuk Haji Syafi’ Sulaiman, itu yang
masuk menjadi tentara. Banyak yang menjadi pimpinan tentara. Tapi begitu
selesai, ya pulang sendiri-sendiri dan tidak diteruskan. Ini adalah perjuangan,
demi untuk kemerdekaan tanah negri kita.
Kemudian
peristiwa yang kedua, tahun empat puluh delapan, peristiwa Madiun, waktu itu
Mbah Kyai (Abdul Karim) akan dibunuh. Sudah masuk di ndalem situ
(ndalem KH. Abdul Karim). Sore itu saya bal-balan (bermain sepak bola)
–saya maih kecil, masih umur delapan tahun- bal-balan disitu dengan
anak Banyuwangi namanya Mahfudz. Mbah Kyai (Abdul Karim) datang ke pondok
membawa lampu, supaya diisi minyaknya. Minyaknya habis. Jam satu malam Mbah
Kyai (Abdul Karim) mbengok (berteriak),
‘Coo!
Maling! Iki maling nyowo duduk maling bondo!’ (Coo! Ada maling! Ini maling
nyawa bukan maling harta!)
Itu
sudah masuk di ndalemnya Mbah Kyai (Abdul Karim). Alhamdulillah
selamat Mbah Kyai (Abdul Karim). Itu peristiwa empat delapan.
Kemudaian
peristiwa enam lima, enam enam (peristiwa PKI), ini pimpinan dari Lirboyo
adalah Mbah Kyai Ma’shum (KH. Abdullah Ma’shum Jauhari). (Beliau) tidak
pernah ketinggalan. Bagian PKI yang jaduk-jaduk (sakti-sakti) itu
musuhnya Mbah Ma’shum. (Sungai) Brantas itu dulu mengalirnya bukan air, tapi
orang. Kiriman dari Blitar, kiriman dari Tulungagung, sampai di Kediri. Ini
memang ada yang jaduk, PKI itu jaduk, dibacok tidak apa-apa.
Akhirnya ada menjalin (rotan) dari Mbah Kyai Badrus. Itu (PKI) disabet
menjalin Alhamdulillah bisa mati. Mandi menjaline timbang pedange.
Niki
sejarah, jadi kita tidak pernah ketinggalan dalam memperjuangkan sejarah
Republik Indonesia. Maka sekarang Alhamdulillah diteruskan oleh generasi muda,
mudah-mudahan kita akan bisa melanjutkan perjuangan dari sesepuh kita semua. ”
(Disarikan
dari sambutan KH. M. Anwar Manshur dalam Silaturahim Kirab Resolusi Jihad di
serambi Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo, Ahad 16 Oktober 2016 M.)
*sumber : https://lirboyo.net/kiai-anwar-pesantren-tak-pernah-ketinggalan-memperjuangkan-kemerdekaan/
