Kisah Tokoh Pesantren yang Diundang Ceramah di Amerika
![]() |
| sumber : https://www.facebook.com/reza.ahmadzahid.37 |
TEMPO.CO, Kediri – Seorang tokoh pesantren muda di
Kediri mendapat penghormatan membahas penyelesaian konflik dengan para pemuka
agama dari berbagai negara. Forum ini digagas Drew University, perguruan tinggi
di New Jersey, Amerika Serikat, yang berfokus pada pendidikan agama, budaya,
dan konflik.
Dia adalah Reza Ahmad Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusyiah Lirboyo,
Kediri. Putra pertama almarhum KH Imam Yahya Mahrus ini dikenal kritis dalam
pemikiran Islam, terutama menyangkut pondok pesantren. Karena itu, meski masih
berusia 36 tahun, dia dipercaya menjadi Ketua Robithoh Ma’had Islamiyah (RMI),
sebuah asosiasi pengasuh pondok pesantren Jawa Timur.
Dalam undangan yang ditandatangani Direktur Seni Liberal Drew University
Christopher S. Taylor dan Direktur Perbandingan Agama Jonathan Golden, Gus Reza
diminta menjadi peserta aktif grup diskusi penyelesaian konflik antaragama yang
melibatkan para pemuka agama dari berbagai Negara.
Selain pemuka agama Islam, pemuka agama Kristen dan Yahudi turut dalam
pembahasan itu. Mereka berasal dari Pakistan, Israel, Arab, dan Nigeria. “Saya
perwakilan muslim dari Indonesia,” kata Gus Reza kepada Tempo, Selasa,
12 April 2016.
Tak
sekadar berdiskusi, tapi forum yang berlangsung selama tiga minggu mulai 10
Juli 2016 itu juga merumuskan resolusi penyelesaian konflik antaragama yang
kerap terjadi di berbagai belahan dunia. Diharapkan resolusi itu akan
berkontribusi pada pencegahan dan penanggulangan konflik antaragama yang tak
berkesudahan.
Di kalangan Nahdlatul Ulama, khususnya pesantren Tanah Air, Reza Ahmad Zahid
merupakan kader yang cerdas. Riwayat pendidikan strata satu dan strata dua yang
ditempuh di Yaman dan Turki, disusul program doktor di Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, menjadi modal Gus Reza membawa pengelolaan pondok pesantren di Jawa
Timur lebih modern. “Pesantren harus tangguh menjawab tantangan zaman yang
terus berkembang,” katanya.
Dia mengakui jika perjuangan mengangkat harkat dan martabat pesantren tak
semudah membalik telapak tangan. Minimnya akses informasi yang masuk ke pondok,
terutama yang bermukim di kawasan pinggiran, menjadi faktor penghambat
modernisasi pondok. Hal ini secara langsung berdampak pada menurunnya minat
orang tua untuk menyekolahkan anak mereka ke pondok. “Ini yang mendasari kami
membuat program pondok sehat dan gerakan nasional ‘Ayo Mondok’ yang diadopsi
PBNU,” katanya.
**sumber
:https://m.tempo.co/read/news/2016/04/14/173762476/kisah-tokoh-pesantren-yang-diundang-ceramah-di-amerika
